Total Pageviews

May 16, 2011

Kehidupan Ini Perlu Kesabaran

Pada tanggal 10 yang lalu, wawancara yang saya lakukan pada hari itu berbeda seperti yang biasanya, redaksi menginginkan saya pergi mewawancarai seorang penderita penyakit kanker tahap akhir.
Dia adalah seorang guru muda di sebuah desa di pegunungan es. Karena mencintai anak-anak yang berada di atas gunung, dia melepaskan kesempatan bekerja di kota setelah tamat menjadi sarjana.
Tetapi setelah 5 tahun kemudian dia  menderita penyakit kanker hati. Mendengar dia masih mengajar sekelompok anak-anak yang tumbuh di pegunungan es, saya ingin mensurvei keadaan pengunungan es itu. Karena saya sudah diam-diam memutuskan akan mengubur diri sendiri dibawah salju yang putih di pegunungan es tersebut.
Ketika saya tiba di sekolah kecil dipegunungan es ini, kepala sekolah membawa saya mencari guru muda yang sedang mengajar, melalui jendela kaca saya mengintip ke dalam ruangan kelas, saya sangat kaget, walaupun dia kelihatan kurus, rambutnya agak acak, tetapi penampilannya sama sekali tidak sama dengan orang yang sakit, dia tersenyum dengan cerah dan terlihat sangat tegar.
Ketika lonceng istirahat berbunyi, dia dengan murid-muridnya dengan gembira keluar dari ruang kelas, saya mengangkat kepala memandangnya, dia tersenyum dengan hangat kepada saya. Dia memiliki sepasang mata yang seperti lautan yang luas, begitu tenang dan dalam.
Setelah selesai wawancara, dia menemani saya melihat gunung es, memandangan ke salju putih digunung es tersebut, perasaan saya menjadi trenyuh.
“Apa yang terjadi denganmu?”
Lengannya yang kurus dengan simpati merangkul kebahu saya, di lengan bajunya saya lihat ada bekas kapur tulis.
“Disini sangat damai, alangkah baiknya jika dapat berbaring di sini berubah menjadi salju.”
Saya dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah akan menetes sejak lama, di dalam hati merasa sangat menderita. Dia memandang ke saya, seperti memikirkan sesuatu.
Setelah dua hari pulang ke rumah dan telah menyelesaikan artikel saya, hati saya kembali dirundung kesepian dan kesedihan, kesedihan karena masalah perceraian,  percecokan yang melelahkan yang tidak berkesudahan dan kesedihan karena putus asa.
Dengan hati kacau saya mengemas pakaian untuk perjalanan, saya membawa mantel merah kesukaan saya dan buku harian yang selama ini menemani saya. Selamat tinggal segalanya, hidup ini demikian susah, saya ingin menghabiskan hidup saya diatas pengunungan es meninggalkan dunia yang fana dan sumber kesengsaraan ini.
Ketika saya melangkahkan kaki keluar rumah, telepon dirumah berbunyi sudah sangat lama, saya membalikkan badan masuk kedalam rumah dengan tangan gemetar saya mengangkat telepon, diseberang sana terdengar suara seorang anak perempuan sedang berbicara, “Apakah engkau adalah tante Xihong?”.
“Benar, saya sendiri, ini dari siapa ya?”
“Saya adalah murid dari guru Zhangzhi, dia memberi saya 10 yuan dan sepucuk surat, dia memesan kepada saya harus segera mengirim surat dan menelpon ke tante, saya menghabiskan 3 jam untuk berjalan ke kantor pos di kaki gunung mengirim surat dan akhirnya  telepon tersambung juga…”
“Bagaimana dengan Zhangzhi?”
“Dua hari yang lalu dia sudah pergi… “Sambil menangis anak perempuan ini berkata, “Sebelum dia meninggal dia berpesan kepada saya, bahwa dia melihat kesedihan yang mendalam di wajahmu, walaupun dia tidak tahu kesedihan apa yang terjadi padamu, tetapi dia menyuruh saya menyampaikan kepadamu, harus hidup dengan tabah dan membuat diri sendiri gembira, ini adalah pesan terakhirnya dia menginginkan engkau mengabulkan pesan terakhirnya.”
Mata saya bagaikan buta dengan penuh air mata saya terduduk di lantai menangis dengan sedih. Zhangzhi, seseorang yang sudah akan meninggalkan dunia ini masih teringat kepada saya yang hanya satu kali bertemu dengannya. Dia sudah pergi, tetapi dia telah menyelamatkan seseorang yang ingin menguburkan diri sendiri di pegunungan es.
Seminggu kemudian, saya menerima sepucuk amplop surat terakhir darinya. Di dalam amplop ada sebuah lukisan cat air, didalam lukisan terdapat pegunungan es dengan salju yang putih, di pegunungan salju yang sepi ini ada sehelai selendang berwarna merah, di atas selendang ada sepasang mata sedang memandang.
Dibawah lukisan cat air ini terdapat tulisan, “Engkau adalah sebuah bendera di atas salju, saya adalah sepasang mata hitam yang memperhatikan jalan hidupmu, kehidupan yang indah ini memerlukan kesabaran. Harus selalu tabah, tenangkan batinmu, dari temanmu Zhangzhi.”
Air mata menetes tanpa berhenti dari mata saya, batin yang tertekan serta yang sudah lama kehilangan cinta tiba-tiba terbuka, gelombang panas serasa mengalir dengan deras melalui pembuluh darah saya. Saya membingkai foto ini dengan bingkai warna putih gading dan mengantungnya di dalam kamar tidur saya.
Mereka memancarkan cinta kasih yang tanpa pamrih, sehingga membuat hati saya yang telah lama beku kembali memancarkan cahaya kasih dan ketegaran. Hadiah dari mantan sahabat muda berusia 26 tahun yang menjadi guru disekolah dasar di pengunungan es, yang mempunyai sepasang mata bagaikan lautan yang dalam mempunyai vitalitas dan keceriaan hidup, dialah yang mengajarkan kepada saya pada saat hati saya bagaikan es yang membeku di pegunungan berubah menjadi hangat dan penuh vitalitas.
Benar temanku!
Hidup yang penuh keceriaan ini perlu kesabaran, kesabaran dan bertahan dapat menempah hidup ini menjadi lebih tegar, lebih gembira, dengan demikian kita bisa menguasai ketenangan batin dengan tangan kita sendiri. (Erabaru/hui)

Menggapai Kebahagiaan

Saya pernah mendengar cerita dari seorang tua : Ada seseorang yang sangat beruntung, dia mendapatkan sebutir mutiara yang besar dan cantik, tetapi dia sendiri tidak merasa puas, karena diatas mutiara tersebut terdapat sebuah noda hitam kecil.
Dia lalu berpikir jika dia bisa menghilangkan noda hitam kecil ini, maka mutiara ini akan sangat sempurna yang akan menjadi mutiara yang paling cantik dan paling sempurna di dunia ini.
Dia memutuskan menguliti lapisan teratas mutiara tersebut, tetapi noda tersebut tetap ada, lalu dia menguliti lapisan kedua dia berpikir sekali ini pasti noda tersebut akan hilang, tetapi kenyataannya noda tersebut masih ada, lalu dia terus mengkuliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir, benar saja noda tersebut telah hilang tetapi mutiara tersebut juga ikut hilang.
Akhirnya orang tersebut hatinya sangat sakit dan menyesal, karena sakit hati terakhir dia jatuh sakit dan tidak pernah sembuh lagi, ketika dia akan meninggal dengan menyesal dia berkata kepada keluarganya, “Jika dahulu saya tidak peduli kepada noda kecil tersebut, sampai sekarang saya pasti masih dapat mengelus mutiara yang besar dan cantik tersebut".
Teringat kepada cerita ini, saya masih mempunyai sebuah cerita. Beberapa waktu yang lalu, setiap senja saya mempunyai kebiasaan setiap hari berjalan-jalan ke tepi laut, oleh sebab itu saya sering bertemu dengan sepasang suami istri yang sudah beruban, mereka berdua akan duduk berdampingan dengan tenang disebuah kursi memandang ke laut.
Mereka berdua selalu duduk dengan tenang tanpa berkata sepatah katapun, tetapi di wajah mereka selalu tergantung senyum yang ramah, kelihatan mereka bagaikan sebuah lukisan yang bahagia dan damai.
Pada suatu hari, karena penasaran saya berjalan ke dekat mereka dan bertegur sapa dengan mereka, “Kalian juga suka melihat laut ya?”
Kakek itu memandang ke arah saya sambil menganggukkan kepala sambil tersenyum mengiakan, kemudian dia menunjuk ke nenek disebelahnya, pada saat ini saya menyadari bahwa kakek tersebut adalah seorang yang tunarungu, sedangkan istrinya adalah seorang yang buta.
Pada saat ini  saya merasa sangat malu dengan sapaan saya, tetapi di wajah kedua kakek dan nenek ini tidak ada sedikitpun rasa tidak gembira, sebaliknya, dia dengan nada lembut dan jujur berkata kepada saya, “Benar, kami berdua sering datang ketempat ini 'melihat' laut. Engkau tentu merasa heran, sebenarnya jika di hati nurani kami tidak ada merasa cacat, kami berdua tetap menjadi orang yang normal. “
Mungkin, sejak saat itu, dari sepasang kakek nenek cacat yang ramah ini saya menyadari apa yang menjadi tolak ukur kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, sebenarnya bukan kita menempuh marabahaya untuk menyelamatkan belahan hati kita, jangan dengan sengaja mencari noda atau kekurangan pihak lain lalu berusaha dengan segenap cara menghilangkan noda tersebut, tetapi kita akan berusaha menggenggam dengan baik mutiara yang berada ditangan kita, belajar memahami, menerima kekurangan masing-masing, dengan demikian akan mendapatkan kebahagian yang sejati. (Erabaru/hui)

Tuhan Memiliki Jawaban Yang Positif

Ketika kapal karam, hanya dia sendiri yang selamat, hidupnya tergantung kepada sebuah papan besar akhirnya dia dihanyutkan oleh ombak dan terdampar disebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni.
Setiap hari dia berdoa kepada Tuhan supaya ada menyelamatkan dia dan dapat kembali pulang ke rumahnya.
Setiap hari dia memandang ke laut, mengharapkan ada kapal yang lewat yang bisa menyelamatkan dia, tetapi yang terlihat hanyalah laut dan langit saja apapun tidak terlihat lagi.
Kemudian, ia memutuskan untuk mempergunakan papan yang membawanya ke pulau itu, membangun sebuah pondok kayu sederhana untuk melindungi dia dalam lingkungan yang berbahaya ini untuk bertahan hidup, dan untuk menyimpan sedikit hartanya
Tetapi suatu hari ketika dia pulang dari mencari makanan, dia melihat pondok kayunya terbakar, api sangat besar dan asap membumbung tinggi ke langit, dalam sekejap pondok kayunya habis terbakar.
Yang paling menyedihkan adalah sedikit hartanya juga turut terbakar habis menjadi abu, dalam kesidihan dia berteriak ke langit, “Oh Tuhanku! Kenapa engkau melakukan semua ini terhadapku?”
Pada saat itu airmata mengalir dengan deras dari matanya.
Keesokkan harinya, dia dibangunkan oleh suara mesin kapal yang mendarat ke pulau kecil ini, benar, ada orang yang datang menyelamatkannya.
Setelah naik keatas kapal, dia bertanya kepada kapten kapal, “Kenapa kalian tahu saya berada ditempat ini?”
“Karena kami melihat sinyal asap minta tolong.” Kapten kapal menjawab.
Manusia ketika menghadapi kesulitan mudah tertekan, namun walaupun menghadapi kesulitan dan penderitaan yang sebesar apapun, tidak boleh kehilangan iman, karena Tuhan senantiasa didalam hati kita melakukan hal-hal yang menakjubkan. (Erabaru/hui)

Apr 26, 2011

Ketika Tangan Tuhan Menciptakan Seorang Wanita

Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya, "Mengapa kau begitu lama menciptakan wanita Tuhan? "

Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?"

"Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan".

Malaikat menjawab dan takjub, "Hanya dengan 2 tangan? Tidak mungkin!”

Tuhan menjawab, "Tidakkah kau tau, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari.”

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut, dan bertanya, " Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh? seolah-olah terlalu banyak beban baginya...."

Tuhan menjawab "Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata...."
"Untuk apa ?" tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan, "Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan.... serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki...ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita."

"Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri....."

"Dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.."

"Dia berkorban demi orang yang dicintainya.."

"Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan."

"Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang...."

"Dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia..."

"Dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran...."

"Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya... Dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka...."

"Cintanya tanpa syarat.."

”Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharga dirinya..”

Wanita, Anda berharga dan mulia di hadapan Tuhan. Dalam kerapuhan dan kelemahanmu, Tuhan menaruh suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh para laki-laki. Gunakan kekuatan yang Tuhan berikan itu untuk menolong dan memberkati para laki-laki dihidupmu.

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. ~ Yesaya 43:4

Kisah Anne

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan.
Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehinggapasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikutbersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur yenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne , mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne ),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka,mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka.

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne . Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.....
Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagiorang lain.

3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan.Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".

Mar 22, 2011

Lakukan Yang Terbaik Mempertahankan Pernikahan Anda

Membuat sebuah hubungan berhasil membutuhkan usaha. Periksalah daftar strategi yang patut Anda coba dan pasti dapat membantu untuk memperbaiki interaksi antara Anda dan pasangan serta saling mengasihi satu sama lain agar hubungan Anda bertumbuh.
Bersikap Jujur
Kejujuran merupakan kebijakan yang terbaik, dan menyatakan perasaan Anda secara langsung kepada pasangan Anda dapat membuat perbedaan yang besar. Katakan pada pasangan Anda apa yang Anda rasakan daripada menyimpannya di dalam hati dapat membantu Anda menghindari pertengkaran di kemudian hari. Anda tidak dapat berharap pasangan Anda tahu apa yang Anda rasakan mengenai suatu hal tanpa Anda mengatakan kepadanya.
Bersikap Penuh Kasih Sayang
Setelah Anda menikah selama beberapa waktu, perilaku saling memberi dan menunjukkan kasih sayang satu sama lain seringkali dilupakan karena terlalu mudah untuk dilakukan setelah masuk dalam pernikahan – namun hal itu justru membuat pasangan Anda merasa tidak lagi dicintai. Gerakan kecil dapat membuat perbedaan yang besar, sehingga tawarkanlah pelukan, ciuman dan tanda-tanda lainnya yang menunjukkan keintiman paling tidak sekali dalam sehari.
Bersikap Menghargai
Apakah Anda hanya berasumsi bahwa pasangan Anda membuang sampah setiap minggu? Apakah Anda berharap pasangan Anda akan memanaskan mobil saat bensin tinggal sedikit? Sangatlah hebat jika ia memang melakukan semua ini, namun Anda harus meluangkan waktu untuk memberitahunya betapa Anda menghargai segala yang dilakukannya. Anda tidak harus menulis “terima kasih” untuknya setiap kali ia membongkar mesin cuci piring, tapi katakan “terima kasih” dan biarkan ia tahu Anda memperhatikan setiap hal baik yang dilakukannya bagi Anda.
Bersedia Untuk Berkompromi
Anda tidak bisa selalu mendapatkan apa yang Anda inginkan. Masing-masing Anda harus bersedia berkompromi untuk menghindari pertengkaran atau membuat hubungan Anda terus melangkah maju ke depan. Sepanjang Anda menyadari hal ini dan berusaha memenuhi paling tidak setengan dari keinginan pasangan Anda bila perlu, Anda harus bisa terus bersama dengan berkompromi dan merasa positif mengenai hubungan pernikahan Anda.

Source : sheknows.com

Feb 8, 2011

What is Important in Life?

When we are healthy, we seldom think about what it feels like to be sick. But when we are really and truly sick, all we can think about is being healthy again.

No matter how much wealth we manage to accumulate in this world, it is virtually useless without good health. This is tied closely to the knowledge of our own mortality. Deep down, we all know that we only have a handful of decades on Earth and then it's over.

In light of that, what becomes important then? That is indeed an interesting question. What is important cannot be money, because we can't take it with us when we die. What is important can't be our possessions because, once again, they are not going with us. Having money and possessions is very temporary. Those things cease to matter to us when we die.

Some turn to their relationships when they realize this. They feel that family and friends must be the most important thing then. Yet, we will lose contact with family and friends when we pass away too.

Some people die and then come back. They call this the near-death experience. Many of those people talk about what they saw in the state of death. They also talk about how they feel which is almost universally wonderful. There are a few that report going to a very bad place, but the majority feel good. They are free from the pain and suffering of their mortal bodies
In the near-death experience, many talk about the life review process, where they see their entire lives displayed before them. The good things they do and the bad are right there. In addition they see how their actions and words affected others too. Apparently it can be quite painful to recognize how much we hurt others and caused others pain.

They also get to see the good things they did. I remember one woman who went through the life review process said that the most significant act in her entire life occurred when she was a little girl. She said that the most important action out of her entire life was holding a little flower in her hand and giving it unconditional love. That was it, out of her entire life that was deemed the most significant thing she ever did.

In light of that, we can conclude that what is important is not who we were but how well we treated others in this life. Therefore, when we contemplate our lives and set our goals, maybe it would be a good idea if we thought about others first.

Life is not temporary, but life on Earth is temporary. How are we going to face all those people who are watching what we do, when it is all over? Hopefully, we will have done things that we can be joyous about.